Tentang Pendiri Mossdef System

Di kampung sederhana disebelah barat kabupaten Sragen di Jawa Tengah, Watubucu namanya, pada tanggal 17 Agustus 1978 lahirlah seorang bayi lelaki dari pasangan suami istri yang berbahagia, Bapak Djapari seorang guru Sekolah Dasar dengan seorang ibu rumah tangga bernama Siti Kismunsiyati. Bayi lelaki ini akhirnya diberi nama Nugroho Agung Wibowo. Demikian nama lengkapnya sang bayi tersebut. Sang ayah dan sang ibu sangat menyayangi bayi tersebut, hingga sang bayi tersebut tumbuh sebagai bayi yang sehat.

Maka ketika bayi tersebut telah berusia sepuluh tahun, Agung kecil mulai tampak kelihatan bakatnya dalam ilmu beladiri. Dibawah asuhan sang paman, Agung kecil mulai dikenalkan dan digembleng seni bertarung hingga usia sampai memasuki kelas 3 Madrasah Tsanawiyah Negeri Andong Boyolali setingkat Sekolah Menengah Pertama. Ketika Agung mulai memasuki Sekolah Menengah Umum, Agung semakin semangat dalam menggembleng ilmu beladirinya melalui kegiatan tambahan yang diadakan oleh Sekolah Menengah Umum Muhammadiyah 2 Gemolong di Sragen tempat dia belajar menimba ilmu pengetahuan umum, yaitu kegiatan ekstrakokulikuler Beladiri. Dia aktif dalam kegiatan ekstrakokulikuler Beladiri tersebut berlanjut hingga lulus Sekolah Menengah umum tersebut pada tahun 1997. Selain Agung terlibat dalam berbagai event-event pertandingan, Agung juga terlalu sering terlibat dalam berbagai bentuk pertarungan jalanan dan berbagai bentuk tawuran antar kelompok.

Sekitar awal tahun 1999 setelah lulus dari Sekolah Menengah Umum, Agung mencoba keberuntungan untuk mendaftarkan diri ketika ada penerimaan Anggota Keamanan Rakyat (Kamra) yang diadakah oleh Wilayah Kodam IV/Diponegoro, dan kemudian Agung diterima masuk untuk mengikuti pendidikan Keamanan Rakyat (Kamra) Gelombang IV Kompi 5 Dodik Belanegara Rindam IV/Diponegoro, dan dikukuhkan sebagai Anggota Keamanan Rakyat (Kamra) melalui Surat Keputusan (SK) Pengangkatan pada tanggal 22 April 1999. Kemudian setelah lulus dari Dodik Belanegara Rindam IV/Diponegoro, Agung ditetapkan sebagai Anggota Keamanan Rakyat (Kamra) di Kepolisian Wilayah Surakarta Resort Sragen pada tanggal 30 Mei 1999, sebagai tempat tugasnya yaitu di Kepolisian Sektor Miri hingga Keamanan Rakyat (Kamra) resmi dibubarkan pada pertengahan tahun 2001. Selama 2 tahun Agung mengabdikan diri untuk keamanan rakyat, Agung tetap masih terus aktif untuk melatih Beladiri di wilayah Sragen dan sekitarnya.

Setelah dibubarkannya Keamanan Rakyat (Kamra), Agung mencoba untuk mengadu nasib ke kota Jakarta hingga pada akhir tahun 2001 Agung berkenalan dengan ustadz pengasuh Pondok Pesantren Al-Imam dari Sukabumi yaitu ustadz Bukhori Muslim, beliau menawarkan Agung untuk membantu mengajar di Pondok Pesantren milik beliau. Di Pondok Pesantren tersebut Agung diberi tugas sebagai kepala Asrama sekaligus kepala keamanan dan juga mengajar beladiri kurang lebih 125 santri putra Pondok Pesantren tersebut. Di Pondok Pesantren tersebut juga Agung mulai merancang dan bermimpi untuk memiliki dan membangun sistem beladiri sendiri. Tepat pada tanggal 23 September 2002 Agung mempersunting dan menikahi salah satu santri putri Pondok Pesantren tersebut yang berasal dari Kota Ende di Nusa Tenggara Timur, Masythoh namanya. Dua bulan kemudian oleh Agung, sang istri tersayang diboyong pulang ke kampung halamannya di Sragen, dan menumpang tinggal di kedua orang tua Agung yang hanya enam bulan lamanya.

Setelah enam bulan berlalu, Agung mencoba untuk bersilaturahmi kepada ustadz Ja'far Umar Thalib di Pondok Pesantren Ihya' Us-Sunnah di Yogyakarta. Setelah bertemu dengan ustadz Ja'far Umar Thalib, Agung memutuskan untuk mengajak sang istri tersayang untuk pindah ke Pondok Pesantren Ihya' Us-Sunnah di Yogyakarta dalam rangka belajar ilmu agama kepada ustadz Ja'far Umar Thalib sambil membantu di majalah Salafy yang ustadz Ja'far Umar Thalib pimpin langsung. Di Pondok Pesantren inilah Agung mulai mendalami berbagai jenis ilmu beladiri yang lainnya secara otodidak melalui buku-buku, internet dan berbagai jenis video beladiri, sambil terus melatih santri Pondok Pesantren Ihya' Us-Sunnah tersebut, dan terus meracik teknik-teknik beladiri yang dikuasainya menjadi berbagai teknik yang praktis, mudah, sederhana, fleksibel dan mematikan.

Tepat pada tanggal 31 Mei 2006, Agung mendirikan sistem beladiri sendiri yang kemudian diberi nama Singa Tauhid, beladiri inilah yang menjadi cikal bakal dari Mossdef System. Beladiri Singa Tauhid ini mengusung konsep penggabungan antara ilmu tauhid dengan ilmu beladiri praktis. Karena Agung sering terlibat dalam berbagai bentuk konflik dan konfrontasi baik yang berskala kecil maupun berskala besar, maka pada tanggal 10 Januari 2007 Agung mengubah nama Singa Tauhid menjadi beladiri Petarung Tauhid dengan mengusung konsep penggabungan antara ilmu tauhid, ilmu beladiri praktis dan ilmu psikologi jalanan.

Kemudian pada tanggal 20 November 2007, nama beladiri Petarung Tauhid diganti namanya oleh Agung dengan nama Moslem Militery Martial Art (M3A) dengan mengusung konsep penggabungan antara ilmu tauhid, ilmu beladiri praktis, ilmu psikologi jalanan dan ilmu dasar kemiliteran. Semenjak berganti nama dari beladiri Petarung Tauhid menjadi Moslem Militery Martial Art (M3A), Agung mulai memikirkan dan merancang bagaimana beladiri Moslem Militery Martial Art (M3A) ini menjadi sebuah sistem pertahanan diri yang sangat praktis, mudah, sederhana, fleksibel, mematikan dan aplikatif. Berbagai uji coba, penelitian dan penyempurnaan baik sistem maupun teknik pertahanan diri, maka pada tanggal 20 Desember 2008 Agung mendeklarasikan berdirinya sebuah sistem pertahanan diri khusus untuk kaum muslimin yang sangat praktis, mudah, sederhana, cepat dikuasai, fleksibel, mematikan dan aplikatif yang berorientasi untuk menanggulangi berbagai bentuk konfrontasi yang kejam dan berbagai tindak kejahatan di jalanan dalam berbagai situasi dan kondisi, dengan nama Moslem Self-Defence System atau disingkat dengan dengan Mossdef System, yang lebih dikenal dengan Moslem Street Fighting, dengan mengusung konsep penggabungan antara ilmu tauhid, ilmu psikologi jalanan, ilmu beladiri, ilmu dasar kemiliteran dan ilmu dasar kepolisian.

Pada tanggal 1 Januari 2009, Agung mulai mengenalkan konsep Mossdef System pertama kalinya untuk masyarakat luas, dan pertama kali itu juga dilakukan di ruang lingkup Universitas Islam Indonesia (UII) Terpadu di Yogyakarta. Pada awalnya, tidak satupun orang yang tertarik untuk belajar Mossdef System dari masyarakat luas, hingga beberapa bulan kemudian baru ada beberapa orang yang tertarik untuk mencoba belajar Mossdef System dari masyarakat luas. Pada masa-masa awal perjuangan inilah Agung sempat terserang sakit radang usus kronis karena terlalu memeras pikiran, tenaga, perasaan dan harta serta waktu untuk merintis awal Mossdef System. Hingga pada tanggal 20 Juni 2009 Agung memutuskan untuk mengundurkan diri dari Majalah Salafy untuk bertekad memfokuskan diri mengembangkan Mossdef System.

Setelah berhenti dari Majalah Salafy untuk memfokuskan diri mengembangkan Mossdef System, pada masa inilah merupakan masa-masa perjuangan terberat yang dialami oleh Agung sekeluarga. Ujian kelaparan, kemiskinan, kesulitan, kekurangan dan keterbatasan menghampiri Agung sekeluarga selama antara bulan Agustus hingga akhir Desember tahun 2009. Walaupun pada awal masa-masa sulit itu, Agung berusaha untuk menyambung hidup dengan apa adanya dan terus mencoba mencari pekerjaan di beberapa tempat usaha dan kantor tetapi tidak satupun yang menerima pengajuan lamaran pekerjaan Agung tersebut. Dan masa-masa sulit itulah Agung sekeluarga terlalu sering hanya bertahan hidup dengan sabar, tawakal dan minum air matang serta teramat jarang Agung sekeluarga menemukan makanan.

Walau berbagai kekurangan dan kesulitan serta keterbatasan mendera hingga beberapa bulan, semangat dalam dada Agung untuk terus melatih dan berjuang untuk mengembangkan Mossdef System terus menyala-nyala. Hingga pada awal Januari 2010 mulai semakin banyak orang yang tertarik dan belajar Mossdef System dari berbagai daerah, kalangan dan usia. Kini Agung telah memiliki beberapa tempat latihan Mossdef System di Yogyakarta dan bertekad terus untuk melebarkan sayap Mossdef System hingga keluar daerah Yogyakarta.

Saat ini Agung telah memiliki banyak murid yang tersebar di berbagai pelosok dalam negeri dan ada di beberapa Negara. Karena melihat perkembangan murid-murid Agung yang terus berkembang, maka Agung pada tanggal 18 Pebruari 2012, Agung mendatangi Kantor Notaris Ibu Ambar Puji Novyaningsih SH., M.Kn. yang terletak di Jalan Kesatrian No. 39 Jeruk, Kepek, Wonosari, Gunung Kidul, Yogyakarta untuk membuat Akta Pendirian sebagai penguat wadah komunitas para Anggota Mossdef System yang berlatih beladiri Mossdef System dengan bentuk Perkumpulan Sistem Pertahanan Diri Muslim "Mossdef System" dengan nomor 04. Kemudian pada tanggal 27 Pebruari 2012, Agung mendatangi Kepaniteraan Pengadilan Negeri Sleman, Yogyakarta untuk mendaftarkan Akta Pendirian Perkumpulan Sistem Pertahanan Diri Muslim "Mossdef System" dengan nomor 35/HK/11/LL/2012/PN Sleman. Dan semenjak itu Mossdef System telah memiliki Legalitas dan telah diketahui oleh Pemerintah tentang keberadaan Mossdef System di Yogyakarta.

Kini bapak dari tiga anak tersebut yaitu Haidarrohman, Sayyaful Fahd dan Hajar Rifqoh semakin memfokuskan diri untuk terus melatih, mempromosikan dan terus mengembangkan Mossdef System semakin luas kepada masyarakat kaum muslimin di Indonesia pada khususnya dan dunia pada umumnya. Dan semakin semangat untuk mengenalkan konsep pertarungan jalanan dan keamanan pribadi di jalanan melalui Mossdef System kepada masyarakat luas. Dari rumah kontrakannya yang sekaligus sebagai Markas Komunitas Besar Mossdef System yang terletak di Degolan-Umbulmartani-Ngemplak-Sleman-Yogyakarta, dari rumah inilah Agung terus bertekad untuk melatih, membina, mempromosikan dan mengembangkan Mossdef System hingga akhir hayatnya, itulah tekad kuat dan bulat Agung Mossdef sang pendiri Mossdef System.